Skip to content

Prodip Keuangan Makassar

Ajang Silahturahmi Alumni

Archive

Tag: Overview
Postingan ini dibuat untuk membalas pesan dari beberapa teman di FB yang menanyakan tentang cerita “The Swan Lake” sehubungan dengan sebuah foto yang telah saya upload ….






Saya coba cerita dikit yah, mudah-mudahan nggak salah

The Swan Lake, sejatinya adalah sebuah kisah pertunjukan balet terkenal yang disadur oleh Tchaikovsky dari sebuah dongeng Jerman, tentang penyihir jahat yang suka mengubah gadis muda menjadi burung. Berdasarkan dongeng tersebut Tchaikovsky menggubah sebuah pertunjukan balet yang romantis dan penuh dengan tragedi.

Inti utama cerita berkisah tentang dua orang gadis, Odette dan Odille. Dua gadis ini memiliki wajah yang sangat mirip sehingga sulit untuk dibedakan.

Akibat disihir oleh Von Rothbart, sang Ratu Angsa Odette, hanya bisa berwujud manusia antara tengah malam sampai fajar. Kutukan ini hanya bisa berakhir kalau ada seorang laki-laki yang mau mengikrarkan janji cinta sejati abadi.

Adalah Pangeran Sigfried, yang dipaksa untuk segera menikah oleh ibunya. Sang Pangeran sebenarnya  jatuh cinta pada Odette. Tetapi, ia kena tipu daya Von Rothbart yang bertekad menikahkan putrinya  Odile dengan Sang Pangeran.

Pangeran Sigfried yang mengira Odile adalah Odette telah terlanjur bersumpah menikahi Odile. Pengkhianatan ini mengunci nasib Sang Ratu Angsa, tetapi dengan kebesaran hati Odette memaafkan Sigfried. Sepasang kekasih ini masih bisa mengelakkan diri dari penyihir jahat dengan menceburkan diri mereka ke danau. Tindakan cinta mengorbankan diri ini membebaskan Dara-dara Angsa dari kutukan, dan menghancurkan kekuatan sihir Von Rothbart selamanya.

Ada banyak versi mengenai akhir dari kisah cinta Sigfried dan Odette, ada kisah yang diakhiri dengan kisah sedih Pangeran Sigfried yang meratapi nasib Sang ratu Angsa, Ada pula versi dimana Sang Pangeran yang meninggal dan menyisakan Oddille dan Odette dengan penuh penyesalan meratapinya di tepi danau, dan ada pula versi yang diakhiri dengan kisah standar “Fairy Tale” dimana Sang Pangeran dan ratu Angsa hidup berbahagia selamanya di dunia nyata …… And They Live Happily Ever After

Apapun ending yang pernah anda baca atau anda saksikan, The Swan Lake tetaplah sebuah mahakarya besar berusia sekitar dua Abad ! Namun siapa sangka, sebuah karya sebesar ini ternyata lahir dari sebuah karya yang dianggap gagal oleh Tchaikovsky sendiri. Jadi jangan pernah menyerah karena kegagalan ……

Tetaplah Mencoba Karena Itu Adalah Tangga Pertama Dari Keberhasilan ….
Peringatan : Apa yang akan anda baca dalam postingan berikut ini adalah hasil dari engalaman yang belum pernah dibuktikan secara ilmiah, jadi kalo benar ya sukur, kalo nggak ya nasib ….. :)

Banyak orang yang mengeluhkan bahwa exposure a.k.a pencahayaan adalah salah satu hal yang paling sulit dikuasai dalam fotografi. Padahal, sebenarnya hal tersebut adalah sesuatu yang tidak perlu dipersulit. Untuk memperoleh Eksposure yang tepat, sebenarnya tinggal melihat gambar pada LCD kamera, kalo kurang tinggal ditambah, kalo lebih ya dikurangin …. Just as simple is that …..

Satu hal yang perlu diingat adalah untuk selalu mencoba bereksperimen dalam berbagai kondisi, sehingga seperti halnya bemain musik, lama kelamaan “feel” nya akan dapat ….

Terkait dengan exposure ini, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi …


1. Manual Mode ato Auto Mode ?
Di era digital saat ini, tidak sulit untuk menemukan orang menenteng kamera DSLR. Tetapi, satu hal yang sering jadi phobia tersendiri bagi pengguna DSLR pemula adalah mereka takut dicap “Tidak Jago” jika menggunakan kamera pada mode AUTO. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar (paling tidak menurut saya).
Dalam memotret, saya yang notabene adalah pemula lebih banyak menggunakan mode “PROGRAM AUTO” biasa disingkat sebagai “P” dalam Tombol Exposure Selector. Kenapa saya menggunakan mode tersebut ? jawabannya singkat, karena saya tidak mau dipusingkan lagi dengan perhitungan aperture dan shutter speed yang tepat, saya persilahkan kamera yang melakukan hal tersebut. Jika saya ingin merubah shutter speed atau aperture, maka secara otomatis kamera akan memberikan kombinasi aperture dan shutter speed yang memberikan exposure yang sama (Nikon menyebut fitur ini dengan nama Program Shift). Mudah bukan ?


Jika hasil yang diperoleh masih terlalu gelap atau terlalu terang, maka silahkan merubah exposure compensation pada kamera anda, naik atau turun ….
Saya hanya menggunakan mode “MANUAL” pada saat kondisi-kondisi tertentu yang memang menuntut kombinasi shutter speed dan aperture yang khusus.

2. Metering Apa Yang Digunakan ?
Metering adalah salah satu faktor kunci dalam penetuan exposure, khususnya pada mode “PROGRAM AUTO”. Saya selalu menggunakan Matrix Metering, karena sistem pengukuran pencahayaan dalam metode MATRIX menggunakan seluruh sensor yang ada, sehingga akan diperoleh pecahayaan atau exposure yang tepat. Sehingga anda dapat lebih berfokus kepada sesuatu yang lebih penting, misalnya mengatur komposisi dari sebuah foto.
Dalam buku manual yang diberikan oleh Nikon, tidak dianjurkan menggunakan MATRIX Metering plus penggunaan fasilitas Exposure Compensation, tetapi saya selalu menggunakan kedua hal tersebut bersamaan dan hasilnya tetap mampu memuaskan diri saya pribadi. Hehehehe …

Sekian dulu postingan kali ini, intinya adalah fotografi adalah sebuah seni. Tidak ada aturan baku yang mengatur semuanya, jika menurut anda hasilnya bagus, settingan itu adalah benar ….

Just Keep Shooting and,
Happy Hunting …..