Skip to content

Prodip Keuangan Makassar

Ajang Silahturahmi Alumni

Archive

Tag: Story
Postingan ini dibuat untuk membalas pesan dari beberapa teman di FB yang menanyakan tentang cerita “The Swan Lake” sehubungan dengan sebuah foto yang telah saya upload ….






Saya coba cerita dikit yah, mudah-mudahan nggak salah

The Swan Lake, sejatinya adalah sebuah kisah pertunjukan balet terkenal yang disadur oleh Tchaikovsky dari sebuah dongeng Jerman, tentang penyihir jahat yang suka mengubah gadis muda menjadi burung. Berdasarkan dongeng tersebut Tchaikovsky menggubah sebuah pertunjukan balet yang romantis dan penuh dengan tragedi.

Inti utama cerita berkisah tentang dua orang gadis, Odette dan Odille. Dua gadis ini memiliki wajah yang sangat mirip sehingga sulit untuk dibedakan.

Akibat disihir oleh Von Rothbart, sang Ratu Angsa Odette, hanya bisa berwujud manusia antara tengah malam sampai fajar. Kutukan ini hanya bisa berakhir kalau ada seorang laki-laki yang mau mengikrarkan janji cinta sejati abadi.

Adalah Pangeran Sigfried, yang dipaksa untuk segera menikah oleh ibunya. Sang Pangeran sebenarnya  jatuh cinta pada Odette. Tetapi, ia kena tipu daya Von Rothbart yang bertekad menikahkan putrinya  Odile dengan Sang Pangeran.

Pangeran Sigfried yang mengira Odile adalah Odette telah terlanjur bersumpah menikahi Odile. Pengkhianatan ini mengunci nasib Sang Ratu Angsa, tetapi dengan kebesaran hati Odette memaafkan Sigfried. Sepasang kekasih ini masih bisa mengelakkan diri dari penyihir jahat dengan menceburkan diri mereka ke danau. Tindakan cinta mengorbankan diri ini membebaskan Dara-dara Angsa dari kutukan, dan menghancurkan kekuatan sihir Von Rothbart selamanya.

Ada banyak versi mengenai akhir dari kisah cinta Sigfried dan Odette, ada kisah yang diakhiri dengan kisah sedih Pangeran Sigfried yang meratapi nasib Sang ratu Angsa, Ada pula versi dimana Sang Pangeran yang meninggal dan menyisakan Oddille dan Odette dengan penuh penyesalan meratapinya di tepi danau, dan ada pula versi yang diakhiri dengan kisah standar “Fairy Tale” dimana Sang Pangeran dan ratu Angsa hidup berbahagia selamanya di dunia nyata …… And They Live Happily Ever After

Apapun ending yang pernah anda baca atau anda saksikan, The Swan Lake tetaplah sebuah mahakarya besar berusia sekitar dua Abad ! Namun siapa sangka, sebuah karya sebesar ini ternyata lahir dari sebuah karya yang dianggap gagal oleh Tchaikovsky sendiri. Jadi jangan pernah menyerah karena kegagalan ……

Tetaplah Mencoba Karena Itu Adalah Tangga Pertama Dari Keberhasilan ….
Lagi iseng nggak ada kerjaan, jadi teringat sama postingan megacule yang bercerita tentang gimana enaknya kalo hobi telah menjadi profesi, saat kita dibayar untuk melakukan sesuatu yang kita senangi, mungkin itulah definisi surga dunia jika dilihat dari sudut pandang profesi…..

Saya rasa setiap orang pasti akan sangat berbahagia jika mereka mampu menjadikan apa yang mereka senangi sebagai sebuah profesi, sebuah profesi yang benar-benar memberikan kemapanan dan kemampuan untuk dijadikan sebagai pegangan dana bekal dalam kehidupan. Terbayang saat kita bisa memperoleh bayaran [dalam jumlah besar] untuk suatu kegiatan yang akan kita lakukan dengan senang hati tanpa ada balas jasa sedikit pun, bahkan tidak jarang justru kita yang harus mengeluarkan biaya untuk sesuatu yang kita senangi. It’s a truly heaven on earth …… !

Untuk saya pribadi, mungkin surga dunia dalam konsep ideal seperti itu masih jauh dari harapan. Secara sederhana, hidup dalam surga dunia bagi saya adalah bagaimana sesuatu yang kita senangi mampu membawa kita lebih menikmati hidup, surga dunia adalah saat dimana hobi mampu membawa semangat dalam pekerjaan kita, saat dimana hobi menjadi pengingat kita untuk bisa bekerja lebih baik lagi, saat dimana hobi menjadi jalan bagi kita untuk bekerja lebih ikhlas ….

Nah, kalo kembali ke diri saya sendiri, beberapa tahun terakhir ini saya memiliki hobi jadi TUKANG FOTO (kalo FOTOGRAFER kan harus memenuhi beberapa persyaratan khusus, sedangkan saya cuman asal jepret aja, hehehehe). Meski dari hobi sebagai Tukang Foto itu tidak dapat dipungkiri kadang memberikan “Sedikit Rupiah” namun saya rasa belum bisa dijadikan tumpuan hidup, paling jadi sandaran hidup dikit-dikit, hehehehehe. Paling tidak hobi saya udah mampu menghidupi dirinya sendiri, tidak mengganggu jatah susu buat anak-anak. Sebenarnya kalo dipikir-pikir, rejeki dari hobi sebagai Tukang Foto memiliki jumlah yang lumayan jika dibandingkan secara proporsional dengan gaji sebagai seorang PeEnEs, tetapi kembali lagi ke masalah kontinuitas, hobi ini belum memberikan kontinuitas yang dibutuhkan untuk dijadikan sumber penghidupan buat saya.

Untuk mencapai “Surga Dunia” seperti yang telah didefinisikan  di atas mungkin saya tetap harus menjadikan Neraca dan Laporan Rugi Laba  serta deretan angka-angka lain, sebagai bagian dari hobi. Dengan kata lain, berusaha menjadikan pekerjaan sebagai hobi. Mungkin bagi sebagian orang hal  tersebut terdengar sangat klise, namun bukankah kehidupan memang sebuah klise, yang membutuhkan pengolahan dan proses lebih lanjut untuk menjadi indah dan penuh warna ?



Saat diriku teringat akan semilir angin laut di senja hari, entah kenapa yang selalu terlintas adalah Pelabuhan Rakyat Paotere, heran juga sih, kenapa bukan Pantai Losari atau Pantai Akkarena yang lebih keren.

Entahlah, yang pasti hati tak akan pernah bisa berdusta saat dia berkata. Semilir angin laut yang menghembus di Paotere, ditambah canda tawa anak kecil yang memancing dan berenang di antara perahu phinisi yang bersandar seakan jadi hiburan tersendiri untuk dunia ku.

Sore itu kembali kunikmati senja di Paotere, untuk memberi warna dalam rutinitas hidup yang semakin padat dan monoton. Foto-fotonya sengaja disusun dengan saturasi dan komposisi warna yang kuat dan cenderung over, sebagai cerminan harapan dan doa demi dunia yang lebih indah ....



 
 
 


ahhh,....  tak terasa sudah senja ! para pemancing ikan telah kembali ke pantai, waktunya untuk pulang












…. Empat tahun lalu, kutinggalkan kota ini. Kota yang menorehkan banyak kenangan dalam catatan kehidupan ku, kota yang mengajarkan aku cara menjadi seseorang yang mandiri. Bahkan di kota ini ketemukan pelita hati yang kini menjadi pengiring jalan dalam menempuh langkah hidup ….

Kini empat tahun telah berlalu, putaran roda kehidupan kembali membawa ku ke kota Manado. Perjalanan ke Manado dimulai dengan sebuah perjalanan menegangkan. Pesawat Garuda dengan flight number GA 602 terbang meninggalkan bandara Sultan Hasanuddin tepat pukul 11.30 WITA, melalui pengeras suara sang pilot menyapa para penumpang dengan memberikan detil perjalanan. Dengan nada datar, sang pilot mengatakan bahwa perjalanan kali ini akan diwarnai dengan beberapa guncangan kecil karena cuaca yang sedikit berawan.

Kutengok jam yang melingkar di pergelangan tangan, waktu menunjukkan pukul 12.30, sesuai perhitungan maka perlahan kupersiapkan diri untuk pendaratan. Seiring dengan seatbelt yang sudah kukencangkan, terdengar suara sang pilot yang menginformasikan bahwa cuaca di Manado tidak memungkinkan untuk melakukan pendaratan karena jarak pandang yang sangat terbatas sehingga pesawat akan berputar sebentar di udara untuk menunggu cuaca membaik.

Dalam masa penantian tersebut, turbulensi bergantian menghantam pesawat. Guncangan kecil yang tadi di informasikan sang pilot ternyata adalah guncangan yang cukup mendebarkan jantung. Tiga puluh menit berlalu, selama itu pesawat terasa hening. Mungkin semua penumpang khusyuk dalam doa memohon keselamatan. Dari balik jendela terlihat awan hitam masih menggelayut di langit manado, sehingga sang pilot memutuskan bahwa pesawat akan Return To Base ke Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Selama perjalanan kembali ke Makassar, pesawat kembali diguncang dengan “sedikit” guncangan yang terasa semakin “biasa”. Akirnya tepat pukul 14.30 WITA pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Sultan Hasanuddin. Ingin rasanya mencium tanah nya pertanda kegembiraan (hehehehe lebay ….)

Tiga puluh menit refueling dan menunggu laporan cuaca dari Manado, pesawat kembali mengangkasa. Kali ini perjalanan terasa lebih menyenangkan. Cuaca tampaknya telah lelah menguji kami, dan perjalanan Makassar – Manado akhirnya dapat diselesaikan dengan mulus. Kulirik kembali jam tanganku, waktu menunjukkan pukul 04.30 WITA saat aku melangkahkan kaki meninggalkan garbarata yang membawa kami keluar dari pesawat.

… Akhirnya aku kembali lagi ke kota ini, terasa belum banyak yang berubah !!!!

Sebagai bagian dari program pengenalan dan pemahaman mengenai masalah perpajakan khususnya bagi generasi muda maka KPP Pratama Maros bekerja sama dengan Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Sulselbartra menggelar Roadshow Perpajakan ke Sekolah-sekolah di wilayah kerja KPP Pratama Maros, acara tersebut bertajuk “ Tax Goes To School 2009”. Sekolah pertama yang menjadi sasaran kegiatan tersebut adalah SMA Negeri 2 Pangkajene Kabupaten Pangkep yang merupakan salah satu sekolah unggulan di wilayah Kabupaten Pangkep.



Saat tiba di TKP (Tempat Kejadian Penyuluhan), kami para Crew TGTS 2009 sempat dikagetkan dengan jumlah peserta yang tampak tidak seperti sekolah lainnya. Setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut ternyata SMA Negeri 2 Pangkep memang memiliki jumlah murid yang terbilang minim. Total siswa hanya berjumlah sekitar 90 an orang, yang merupakan hasil seleksi dari siswa-siswi terbaik yang ada di kabupaten Pangkep. Siswa-siswi tersebut dipilih dengan tahapan seleksi yang cukup ketat dan dijamin bebas dari unsur-unsur korupsi, kolusi dan nepotisme, demikian disampaikan oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Pangkep pada saat memberikan kata sambutan.


Pada saat acara berlangsung, ternyata siwa-siswi SMA Negeri 2 Pangkep membuktikan kualitas yang telah disebutkan oleh sang Kepala Sekolah. Mereka memberikan apresiasi yang sangat baik terhadap materi yang diberikan oleh Crew TGTS 2009, bahkan beberapa pertanyaan dan quiz game yang diberikan mampu dijawab dan diselesaikan oleh mereka dengan jawaban-jawaban yang sangat mengesankan. Tidak salah memang kalo sekolah tersebut menyandang predikat sekolah unggulan. Tidak hanya dari sisi akademis yang mampu ditonjolkan oleh para sisw-siswi di SMA Negeri 2 Pangkep, mereka juga sempat menunjukkan beberapa kelebihan dan bakat di bidang seni dan lainnya.



Pada akhirnya, kegiatan “Tax Goes To School” ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi yang berguna bagi para generasi muda agar mereka bisa tahu dan mengerti mengenai apa dan bagaimana pajak itu sebenarnya. Dengan pengertian dan pemahaman yang baik akan hal tersebut maka tentu akan memberikan dampak positif bagi generasi muda.



Sebagai akhir dari kegiatan TGTS 2009 di SMA Negeri 2 Pangkep, dilaksanakan penyerahan Standing Banner kegiatan TGTS 2009 kepada perwakilan dari Siswa-siswi SMA Negeri 2 Pangkep kemudian dilanjutkan dengan penyerahan Cindera Mata TGTS 2009 kepada Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Pangkep.


Dengan ditutupnya acara pada hari itu, maka siswa-siswi SMA Negeri 2 Pangkep dapat dengan lantang meneriakkan kalimat :



“SISWA-SISWI SEKOLAH KAMI NGERTI PAJAK !”



p.s : Sebagian Foto Dari kegiatan TGTS 2009 di SMA Negeri 2 Pangkep













Alhamdulillah, ...

Tak terasa hari ini sudah tanggal 27 mei 2009. Artinya setahun sudah KPP Pratama Maros resmi terbentuk, setahun sudah semangat reformasi birokrasi dan peningkatan pelayanan menjadi bagian dari pengabdian kami kepada negara.

Pagi ini, di kantin “Bola Sima” (Bola Sima diambil dari bahasa setempat yang berasal dari kata Bola = Rumah dan Sima = Pajak) diadakan sebuah acara syukuran kecil-kecilan, untuk meemperingati setahun perjalanan ini. Sebuah acara yang jauh dari kesan glamour ataupun foya-foya, hanya sekedar makan pagi bersama dengan menu ala kadarnya, diiringi doa agar tahun-tahun mendatang dapat dilalui dengan lebih baik.

Dalam setahun perjalanan ini, ada beberapa hal yang dapat membanggakan kami sebagai pegawai KPP Pratama Maros. Yang pertama mungkin adalah terpilihnya kantor kami ini untuk mewakili Kanwil DJP sulselbartra untuk mengikuti lomba KPP percontohan. Beberapa prestasi lain juga telah diukir teman-teman dalam waktu setahun ini, beberapa Account Representatif mampu menduduki posisi 10 besar dalam peringkat AR sekanwil DJP Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara (Bahkan kalo tidak salah posisi pertama ditempati oleh AR dari KPP Pratama Maros). Kinerja teman-teman dari beberapa seksi yang lain juga tidak kalah menggembirakan. Kinerja seksi Ekstensifikasi, seksi Penagihan dan seksi pemeriksaan tidak pernah lepas dari peringkat 5 besar sekanwil DJP Sulawesi Selatan Barat dan Tenggara.

Disamping sejumlah torehan prestasi tersebut, setahun perjalan ini juga masih menyisakan banyak tugas yang harus kami selesaikan bersama. Kerja keras dan sinergi antara seluruh unsur pendukung KPP Pratama Maros harus lebih ditingkatkan, untuk mencapai dua tujuan bersama yang paling utama :
1. Tercapainya target penerimaan
2. Meningkatnya kepercayaan dan kepuasan wajib pajak terhadap pelayanan yang diberikan

Tidak mudah memang untuk mencapai tujuan tersebut, tetapi paling tidak kami akan berusaha mencapai tujuan tersebut, tentu saja dengan melalui pencapaian tujuan-tujuan lain sebagai pendukung tujuan utama tersebut.

Kembali ke diri saya sendiri, kadang masih sempat bertanya apa sih yang telah saya sumbangkan kepada kantor ini. Sampai saat ini terasa sangat kecil (klo boleh dibilang malah nggak ada), sumbangan kinerja yang mampu saya berikan untuk bagi kantor ini. Dengan beberapa laporan yang kadang dikirim pada saat injury time, tumpukan kerjaan yang masih belum terselesaikan, terasa malu untuk mengklaim diri ini sebagai bagian dari gerbong modernisasi yang melaju cepat.

Kalo mengingat pesan dari pak kepala kantor saat pertama kali kami berkumpul dulu, beliau meminta kami untuk memberikan yang terbaik bagi kantor ini, karena kantor ini adalah milik kita bersama, mungkin saat ini saya harus memberikan lebih dari pada itu karena hingga kini saya belum mampu memiliki kantor ini. Dengan sumbangan kinerja yang ala kadarnya mungkin lebih tepat kalo dikatakan saya berutang pada kantor ini.

I’m not own this office, ...
I owe this office, ...




p.s. : Foto-foto dari acara setahun bolasima


Sepuluh tahun lebih telah berlalu, sejak dia menaburkan bunga di pusara itu untuk yang pertama kalinya. Sepuluh tahun pula status itu telah dia sandang, seorang janda dengan anak satu di tengah kerasnya kehidupan.

Tak kan pernah ada seorang pun yang pernah menginginkan hidup dengan status sebagai seorang janda, namun nasib harus berkata lain. Sepuluh tahun yang lalu, sang suami tercinta telah dipanggil menghadap sang Ilahi. Undangan dari sang khalik tak dapat ditolak, lewat sebuah penyakit bernama kanker sang suami meninggalkan dunia fana ini dengan senyuman tersungging.

Seuntai senyum mungkin bermakna kebahagiaan, tetapi senyum kala itu terasa begitu menyesakkan dada nya. Lewat sebaris senyum terakhir itu, cobaan hidup harus dijalani sang istri.

Kadang takdir memang bisa terasa sangat tak bersahabat, saat baru saja kehidupan terasa lengkap, seketika itu pula segala sesuatunya dapat lenyap tak bersisa. Begitulah putaran roda nasib membawa sang wanita dalam duka yang tak kunjung padam.

Hari itu, umur sang buah hati belum genap setahun. Sang buah hati yang telah mereka nantikan selama 15 tahun. Saat kebahagiaan sedang menyelimuti, duka itu datang meninggalkan luka yang kian menganga. Sang suami, pergi dengan hanya meninggalkan senyuman dan sang buah hati.

Hidup sebagai seorang janda dengan satu anak, mungkin terasa berat bagi sang istri. Almarhum sang suami, hanyalah seorang pegawai swasta tanpa santunan pensiun. Betapa berat dilema sang istri, harus hidup membiayai sang buah hati dari belas kasih saudara dan sanak famili. Mungkin bukan tidak pernah dia mencoba untuk menafkahi sang buah hati. Namun status sebagai seorang “janda” seakan memberikan kesulitan tersendiri bagi setiap langkah yang akan ditempuh. Tatapan sinis dan nanar dari para tetangga saat dia pulang agak malam, terasa mengiris hingga ke daging. Belum lagi omongan miring yang senantiasa beterbangan dari mulut yang satu ke mulut yang lain. Namun, di atas itu semua yang terasa sangat menyedihkan adalah meninggalkan sang buah hati dengan orang lain.

Namun tahun terus berganti, sepuluh tahun telah berlalu. Kini sang wanita telah menemukan cinta nya yang baru. Entah apa makna cinta dalam usia seumuran mereka. Namun yang pasti semoga kebahagiaan bisa kembali menyelimuti mereka, setelah tahun-tahun penuh kepedihan. Semoga putaran roda nasib bisa membawa mereka kembali ke atas, dan kembali menyunggingkan senyuman di bibir mereka.

Dalam kebahagiaan, sang wanita sempat berkata :
“Malam ini putri saya tidur dengan siapa ?”

Sungguh sebuah pertanyaan kekhawatiran yang tulus dari seorang ibu, yang selalu mengharapkan kebahagiaan dari sang buah hati .....

Semoga kisah mereka bisa berakhir layaknya kisah dalam dongeng klasik, yang selalu ditutup dengan kalimat : “And they live happily ever after !”



*Adaptasi dari cerita bunda tentang curhat seseorang pada hari perkawinannya
[warning, sebelum membaca postingan berikut ini diharapkan kepada seluruh deedzmania di seluruh penjuru dunia untuk mempersiapkan mental dan kalo bisa sekalian dipersiapkan juga kantong muntah disamping komputer, berhubung postingan berikut ditulis sebagai upaya pengungkapan fakta terpendam dengan tetap mengedepankan fakta-fakta yang ada namun landasan sebenarnya adalah semangat narsis yang tak kunjung padam ....]

Oke, sebelum kita mulai, silahkan tarik nafas panjang , .....
Pastikan posisi kantong muntah berada pada posisi yang terjangkau, ....
Begini ceritanya !

Hari selasa kemarin, tanggal 12 Mei 2009 koran FAJAR memuat sebuah artikel tentang perpajakan. Artikelnya sih biasa aja, tetapi yang membuat artikel itu jadi luar biasa dan menarik perhatian adalah pemilihan foto ilustrasi yang sangat tepat. Kenapa saya anggap tepat, karena foto ilustrasi itu menampilkan foto seorang petugas yang baik hati, tidak sombong, murah senyum dan pastinya ganteng. Yup, tebakan anda tepat orang itu adalah deedz

[*ini waktu yang tepat buat anda untuk muntah]

Saya bisa tebak, sekarang anda semua pasti lagi penasaran trus nyari-nyari koran FAJAR edisi tanggal 12 Mei 2009. Sekedar informasi buat anda yang tidak berlangganan FAJAR, mungkin agak sulit untuk mencari koran edisi tersebut dikarenakan mungkin sudah habis terborong oleh para deedzmania dan fans-fans saya yang lain yang telah menyadari lebih dulu mengenai keberadaan foto saya disitu dan mereka kemudian memborong habis koran FAJAR edisi tersebut. Kalo anda tidak percaya, silahkan aja cari di penjual koran disekitar lokasi anda mereka pasti dengan seragam akan mengatakan “ Maaf Pak/Bu/Mas/Mbak, koran FAJAR edisi tanggal 12 Mei 2009 udah abis !“.

Saya juga sedikit heran dengan pihak KPP Makassar Selatan dan FAJAR, kok mereka masih menggunakan foto saya untuk ilustrasi artikel tersebut padahal sekarang kan saya udah tidak berkantor di sana lagi. Mungkin memang sulit mencari seseorang yang bisa menyamai kharisma seorang deedz, tetapi yang 2 atau 3 level dibawah saya kan masih ada, meskipun mungkin jarang :) . Namun saya menyadari itu adalah konsekuensi yang harus saya pikul sebagai seorang public figure :)

[*silahkan anda muntah kembali pada kantong yang telah dipersiapkan]

Nah, buat anda para deedzmania lainnya yang masih penasaran dengan artikel dan ilustrasi tersebut, dalam waktu dekat ini saya akan menyajikan hasil scan dari artikel tersebut. Silahkan di print sendiri dan disatukan dengan memorabilia lain yang menjadi barang kesayangan anda. Namun sekali lagi saya informasikan bahwa untuk saat ini saya belum bisa memberikan keterangan resmi dalam press conference atau yang semacamnya. Buat yang ingin minta tanda tangan, saya juga memohon maaf yang sebesar-besarnya karena hal itu sangat sulit untuk terealisasi dalam waktu dekat ini.

Sekian dan terima kasih !
Your beloved,

Deedz



[*mungkin kantong muntah anda sudah penuh, silahkan buang ke t4 sampah terdekat. Ingat jaga kebersihan dan selalu gunakan produk yang bisa didaur ulang]




>>>> upDATED :


Ini artikel yang dimaksud ......

mohon maaf atas kehadiran bapak kumis yang menghalangi pandangan, dan teman2 lain yang mau numpang ngetop !!!!!!!




*gw emang narsis ! hehehehehe .......

Jam di dinding kantor telah berdentang tiga kali, tanda hari sudah mulai sore. Tapi aku masih di sini, terduduk dan terdiam di meja kerja pada hari libur yang cerah ini. Sungguh sebuah liburan yang tidak menyenangkan. Terbayang di rumah, bunda mungkin menunggu dengan rasa kecewa, karena sudah beberapa minggu ini hari libur masih terpakai buat kegiatan kantor. Entah telah berapa lama kutunda janji untuk menemaninya menikmati satu atau dua jam waktu liburan di E-Club atau Nav.

Sebenarnya bekerja dihari libur bukanlah sebuah beban yang teramat berat, yang membuat hari ku menjadi dongkol adalah kelakuan orang-orang yang di depan sang pimpinan mereka dengan manis menyunggingkan senyum dan berkata “SIAP’ dengan lantang, namun realisasi di lapangan nihil, nol besar.


Mana data yang dijanjikan tinggal diambil, mana data yang katanya telah siap, ....

*ditulis sambil celingak-celinguk cari orang yang bisa dimintain data rencana kerja !

Siang ini cuaca maros lagi berada di titik klimaks, …

Dengan menumpang mobil seorang kawan, aku kembali ke kantor setelah menunaikan sholat jumat di masjid raya maros. Jarak 1 kilometer yang ditempuh terasa begitu menyiksa, panas mentari terasa menyengat hingga kedalam daging, padahal AC mobil telah mentok pada posisi cool. Peluh bercucuran membasahi tubuh, sambil sesekali mulut bersenandung dengan berbagai keluhan.

5 menit perjalanan yang menyiksa mengantarku kembali ke kantor, segera saja kaki melangkah ke kantin kecil di sudut kantor. Sekotak sari buah rasa jambu [*minuman standar kantin] terasa menyegarkan saat dinginnya membasahi kerongkongan yang mulai tercekat oleh kekeringan. Sungguh sederhana makna sebuah kenikmatan.

Ternyata, ….
kenikmatan sangat dekat dengan kehidupan kita.


“… dan nikmat-Nya yang mana lagi kah, yang engkau dustakan ?”