Skip to content

Prodip Keuangan Makassar

Ajang Silahturahmi Alumni

Archive

Tag: Travel

Menanti senja yang terbenam di sebuah desa nelayan di pesisir utara kota Makassar ...

Semilir angin laut dan keramahan masyarakat menjadikan daerah ini sebuah surga bagi para landscaper dan pengejar HI !

Kamera : Nikon D50 Full InfraRed - Modified By Dibyo Gahari
Lensa : Nikon 18-55mm

 
Mencoba bermain dengan sebuah "mainan" baru, ...
mengabadikan keindahan ciptaan-Nya melalui fotografi Infra Red

Semoga bisa dinikmati !!!!





 

 

 

Mencoba mengagumi ciptaan-Nya dari perspektif yang lebih kecil ........


Bunaken, ....

Surga wisata bawah laut yang sudah mendunia. Terletak kurang lebih 7-8 km disebelah barat kota Manado, yang dapat ditempuh selama 45 menit menggunakan speedboat.


Pantai Bunaken memberikan sensasi tersendiri dengan keindahan dan keramahan penduduknya ...


... sayang saya nggak punya underwater camera ! hihihhii




Hari pertama di kota Manado, terasa sinar mentari mengetuk jendela !
Kuambil kamera dan mencoba mengabadikan keagungan-Nya yang terlukis sempurna dalam ciptaan-Nya ...




…. Empat tahun lalu, kutinggalkan kota ini. Kota yang menorehkan banyak kenangan dalam catatan kehidupan ku, kota yang mengajarkan aku cara menjadi seseorang yang mandiri. Bahkan di kota ini ketemukan pelita hati yang kini menjadi pengiring jalan dalam menempuh langkah hidup ….

Kini empat tahun telah berlalu, putaran roda kehidupan kembali membawa ku ke kota Manado. Perjalanan ke Manado dimulai dengan sebuah perjalanan menegangkan. Pesawat Garuda dengan flight number GA 602 terbang meninggalkan bandara Sultan Hasanuddin tepat pukul 11.30 WITA, melalui pengeras suara sang pilot menyapa para penumpang dengan memberikan detil perjalanan. Dengan nada datar, sang pilot mengatakan bahwa perjalanan kali ini akan diwarnai dengan beberapa guncangan kecil karena cuaca yang sedikit berawan.

Kutengok jam yang melingkar di pergelangan tangan, waktu menunjukkan pukul 12.30, sesuai perhitungan maka perlahan kupersiapkan diri untuk pendaratan. Seiring dengan seatbelt yang sudah kukencangkan, terdengar suara sang pilot yang menginformasikan bahwa cuaca di Manado tidak memungkinkan untuk melakukan pendaratan karena jarak pandang yang sangat terbatas sehingga pesawat akan berputar sebentar di udara untuk menunggu cuaca membaik.

Dalam masa penantian tersebut, turbulensi bergantian menghantam pesawat. Guncangan kecil yang tadi di informasikan sang pilot ternyata adalah guncangan yang cukup mendebarkan jantung. Tiga puluh menit berlalu, selama itu pesawat terasa hening. Mungkin semua penumpang khusyuk dalam doa memohon keselamatan. Dari balik jendela terlihat awan hitam masih menggelayut di langit manado, sehingga sang pilot memutuskan bahwa pesawat akan Return To Base ke Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Selama perjalanan kembali ke Makassar, pesawat kembali diguncang dengan “sedikit” guncangan yang terasa semakin “biasa”. Akirnya tepat pukul 14.30 WITA pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Sultan Hasanuddin. Ingin rasanya mencium tanah nya pertanda kegembiraan (hehehehe lebay ….)

Tiga puluh menit refueling dan menunggu laporan cuaca dari Manado, pesawat kembali mengangkasa. Kali ini perjalanan terasa lebih menyenangkan. Cuaca tampaknya telah lelah menguji kami, dan perjalanan Makassar – Manado akhirnya dapat diselesaikan dengan mulus. Kulirik kembali jam tanganku, waktu menunjukkan pukul 04.30 WITA saat aku melangkahkan kaki meninggalkan garbarata yang membawa kami keluar dari pesawat.

… Akhirnya aku kembali lagi ke kota ini, terasa belum banyak yang berubah !!!!

Di sini sempat kunikmati indahnya masa kecilku, ...
20 tahun telah berlalu, semua masih terasa sama.